29 Agt 2014

Stabilitas ekosistem


Stablititas adalah kemampuan suatu populasi atau ekosistem kembali ke keadaan semula setelah terjadi gangguan atau goncangan yang berasal dari dalam atau dari luar ekosistem. Sifat stabilitas ini sangat ditentukan oleh stabilitas populasi dan organisme spesies penyusun komunitas.



17 Mei 2012

Irigasi Tetes

         Prinsip keja irgasi tetes adalah  pemberian air ke tanah untuk pemenuhan kebutuhan air bagi tanaman, dengan cara meneteskan air melalui emiter, yang mengarah langsung pada zona perakaran. Irigasi tetes merupakan pengembangan dari irigasi yang sudah ada sebelumnya, misalnya saja irigasi permukaan, irigasi pancar dll. Irigasi ini sangatlah efektif untuk efisiensi penggunaan air, karena sasaran irigasi tetes ini langsung ke akar sehingga kecil kemungkinan air mengalami penguapan.

12 Mar 2012

Cara menggunakan google earth

1. Buka aplikasi "Google earth", bila belum download ketik di google " google earth ", kemudian klik.
kemudian klik DOWNLOAD.


2. Setelah "google earth"  terbuka masukkan nama lokasi pada box search ( pojok kiri atas ), kemudian klik search. ( LIHAT GAMBAR DI BAWAH INI )



karena google earth membutuhkan waktu lama ( tergantung kecepatan Internet ) maka bersabarlah :)

 3. Setelah lokasi terbuka atau terlihat, maka lakukan perbesaran sampai gamabar yang di inginkan terlihat. dengan cara mengklik tombol + pada pojok kanan ( lihat gambar di bawah ini )


4. setelah itu tekan tombol " print screen " pada keyboard.

5. Paste pada MICROSOFT OFFICE WORD .

6. selesai


# TAMABAHAN.
 Untuk melihat titk koordinat  lokasi dan ketinggian penggambilan foto, dapat di lihat di bagian bawah google earth. ( LIHAT GAMBAR DI BAWAH )




VIDEO CARA MENGGUNAKAN GOOGLE EARTH, klik link di bawah ini

http://www.youtube.com/watch?v=_2qnx7oN33s&feature=player_embedded


semoga bermanfaat.

23 Mei 2011

Teknik Analisis Gender

Teknik Analisis Gender
Terdiri dari:
A. Model Harvard
B. Model Moser
C. Model SWOT
D. Model PROBA (Problem Base Approach)
E. Model GAP (Gender Analysis Pathway) atau Alur Kerja Analisis Gender (AKAG)

A. Model Harvard
• Dikembangkan oleh Harvard Institute for International Development bekerja sama    dengan Kantor Women in Development (WID)-USAID.
• Model Harvard didasarkan pada pendekatan efisiensi WID yang merupakan  kerangka analisis gender dan perencanaan gender paling awal.
• Model analisis Harvard lebih sesuai digunakan untuk perencanaan proyek,    menyimpulkan data basis atau data dasar.
 B. Model Moser
• didasarkan pada pendapat bahwa perencanaan gender bersifat ‘teknis dan politis’,
• kerangka ini mengasumsikan adanya konflik dalam perencanaan dan proses transformasi  serta mencirikan perencanaan sebagai suatu ‘debat’.
• Terdapat kelemahan dalam model ini yang tidak memperhitungkan kebutuhan strategis laki-laki.
C. Model SWOT
• dengan analisis manajemen dengan cara mengidentifikasi secara ‘internal’ mengenai kekuatan dan kelemahan dan secara ‘eksternal’ mengenai peluang dan ancaman.
 D. Model PROBA (Problem Base Approach)
• Dikembangkan atas kerjasama Kementrian Pemberdayaan Perempuan, BKKBN dan UNFPA di tingkat pusat, propinsi dan kabupaten/kota,
• Teknik ini sedikit berbeda dengan Gender Analysis Pathway.
 E. Model GAP (Gender Analysis Pathway) atau Alur Kerja Analisis Gender (AKAG)
• adalah alat analisis gender yang dikembangkan oleh BAPPENAS yang dapat digunakan untuk membantu para perencana dalam melakukan pengarusutamaan gender dalam perencanaan kebijakan, program, proyek dan atau kegiatan membangunan.
• Dari beberapa model teknik analisis yang telah dikembangkan tersebut di atas disarankan untuk menggunakan teknik analisis gender dengan metode Gender Analysis Pathway (GAP).

22 Apr 2011

macam Perkecambahan

Macam-macam Perkecambahan pada Biji
1.Perkecambahan hipogeal : apabila terjadi pembentangan ruas batang teratas (epikotil) sehingga daun lembaga tertarik keatas tanah tetapi kotiledon tetap di dalam tanah.
Contoh: perkecambahan pada biji kacang tanah dan kacang kapri. 


2.Perkecambahan epigeal : apabila terjadi pembentangan ruas batang di bawah daun lembaga atau hipokotil sehingga mengakibatkan daun lembaga dan kotiledon terangkat ke atas tanah.
Contoh: perkecambahan pada biji buncis dan biji jarak.





karakteristiknya :


Pada hipogeal, terjadi pertumbuhan memanjang dari epikotil yang menyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon tetap di dalam tanah. Hipogeal terjadi pd kacang kapri dan jagung.

Sedang pada epigeal, hipokotil tumbuh memanjang, akibatnya kotiledon dan plumula terdorong ke permukaan tanah. Epigeal terjadi pada kacang hijau dan jarak.


tambahan bahan : klik disini

Pengertian perkecambahan

Perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah.
sumber : klik di sini

Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah bagian kecambah yang terdapat di dalam biji, misalnya radikula dan plumula. (Bagod Sudjadi, 2006)

Perkecambahan merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan embrio. Hasil perkecambahan ini adalah munculnya tumbuhan kecil dari dalam biji. Proses perubahan embrio saat perkecambahan adalah plumula tumbuh dan berkembang menjadi batang, dan radikula tumbuh dan berkembang menjadi akar. (Istamar Syamsuri, 2004)

Perkecambahan merupakan sustu proses dimana radikula (akar embrionik) memanjang ke luar menembus kulit biji. Di balik gejala morfologi dengan pemunculan radikula tersebut, terjadi proses fisiologi-biokemis yang kompleks, dikenal sebagai proses perkecambahan fisiologis. (Salisbury, 1985)


Macam Media Tanam dan Karakteristiknya

Berdasarkan jenis bahan penyusunnya, media tanam dibedakan menjadi bahan organik dan anorganik.

A. Bahan Organik
     Media tanam yang termasuk dalam kategori bahan organik umumnya berasal dari komponen organisme hidup, misalnya bagian dari tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, atau kulit kayu. Penggunaan bahan organik sebagai media tanam jauh lebih unggul dibandingkan dengan bahan anorganik.

Karakteristiknya :
  • Bahan organik akan mengalami proses pelapukan atau dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme. Melalui proses tersebut, akan dihasilkan karbondioksida (CO2), air(H2O), dan mineral. Mineral yang dihasilkan merupakan sumber unsur hara yang dapat diserap tanaman sebagai zat makanan.
  • Proses dekomposisi yang terlalu cepat dapat memicu kemunculan bibit penyakit. Untuk menghindarinya, media tanam harus sering diganti. Oleh karena itu, penambahan unsur hara sebaiknya harus tetap diberikan sebelum bahan media tanam tersebut mengalami dekomposisi.
  • Bahan organik juga memiliki pori-pori makro dan mikro yang hampir seimbang sehingga sirkulasi udara yang dihasilkan cukup baik serta memiliki daya serap air yang tinggi.Hal itu dikarenakan bahan organik sudah mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman.
contohnya: arang, cacahan pakis, kompos, mosS, sabut kelapa, pupuk kandang, dan humus.
sumber : klik disini


B. Bahan Anorganik

    Bahan anorganik adalah bahan dengan kandungan unsur mineral tinggi yang berasal dari proses pelapukan batuan induk di dalam bumi. Proses pelapukan tersebut diakibatkan o/eh berbagai hal, yaitu pelapukan secara fisik, biologi-mekanik, dan kimiawi.

Karakteristiknya : 

  • Berdasarkan bentuk dan ukurannya, mineral yang berasal dari pelapukan batuan induk dapat digolongkan menjadi 4 bentuk, yaitu kerikil atau batu-batuan (berukuran lebih dari 2 mm), pasir (berukuran 50 /-1- 2 mm), debu (berukuran 2-50u), dan tanah liat (berukuran kurang dari 2ju. 
  • Bahan anorganik juga bisa berasal dari bahan-bahan sintetis atau kimia yang dibuat di pabrik. Beberapa media anorganik yang sering dijadikan sebagai media tanam yaitu gel, pasir, kerikil, pecahan batu bata, spons, tanah liat, vermikulit, dan perlit. 
sumber : klik disini